Thursday, August 10, 2017

PLASENTA DAN KECANTIKAN KULIT Bahaya Terapi Plasenta Manusia untuk Kecantikan

Efek Berbahaya Terapi Plasenta untuk Kecantikan. Plasenta adalah organ yang terbentuk dalam rahim mamalia hamil termasuk manusia, yang sangat penting untuk memelihara dan mendukung janin melalui tali pusar. Melalui plasenta, oksigen dan nutrisi dibawa dari darah ibu ke dalam janin, dan produk limbah keluar dari arah sebaliknya. Plasenta sudah digunakan sejak zaman Tiongkok kuno dalam terapi antipenuaan dan pengobatan. Produk kosmetik yang mengklaim menggunakan plasenta juga tak sedikit. Lihat juga SODIUM LAURYL SULFATE (SLS) Berbahayakah Kandungan Zat Sodium Lauryl Sulfate (SLS) pada Produk Perawatan Kulit?

PLASENTA DAN KECANTIKAN KULIT Bahaya Terapi Plasenta Manusia untuk Kecantikan

Plasenta yang sering digunakan untuk kosmetika atau produk kesehatan tersebut dapat berasal dari plasenta hewan (kambing, sapi, dan lain-lain) atau dari plasenta manusia.

Yang paling banyak digunakan justru plasenta manusia yang banyak terdapat di rumah sakit atau rumah bersalin. Penggunaan organ tubuh manusia ini bukan hanya terjadi di luar negeri, tapi juga sudah dikembangkan di tanah air.

Para ahli kosmetik mengatakan bahwa plasenta akan memiliki khasiat yang lebih baik lagi jika langsung diminum atau dimasukkan dalam tubuh. Cara yang lebih ekstrem adalah mengonsumsi pil plasenta sendiri setelah melahirkan. Plasenta tersebut dibekukan kemudian dibuat pil.

Selebriti seperti Kourtney dan Kim Kardashian, serta Katherine Heighl, adalah beberapa nama yang diberitakan melakukan terapi plasenta untuk mempertahankan kecantikan.

Manfaat lain yang diklaim adalah memperbaiki mood dan menurunkan risiko depresi pasca-melahirkan.

Walau demikian, tak sedikit dokter yang tidak merekomendasikan terapi plasenta tersebut. Risiko yang mungkin terjadi adalah menyebabkan infeksi pada bayi.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menemukan, bayi berumur 5 hari dilarikan ke rumah sakit setelah ibunya mengonsumsi pil plasenta. Bayi tersebut mengalami sesak napas dan setelah diperiksa ia terinfeksi bakteri grup B streptococcus (GBS).

Bakteri itu biasanya ditemukan di vagina atau rektum. Proses persalinan normal bisa membuat bakteri ini berpindah ke bayinya.

Namun, seberapa sering plasenta bisa terpapar infeksi bakteri GBS? Menurut Kecia Gaither, dokter kebidanan dan kandungan, selalu ada risiko infeksi, karena itu sangat penting memperhatikan bagaimana plasenta ditangani dan disimpan setelah persalinan.

Padahal belum ada standar tentang bagaimana proses pembuatan kapsul plasenta dan metode yang ada sekarang belum mampu membunuh semua patogen.

Walau terapi plasenta sudah dikenal lama, namun belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan manfaatnya bagi kecantikan.

Bagi kaum muslimin jika ingin melakukan terapi plasenta, sebaiknya dipikirkan lagi. Menurut Majelis Ulama Indonesia, penggunaan plasenta sebagai bahan kosmetika hanyalah plasenta yang berasal dari binatang halal, sedangkan dari manusia dianggap haram.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon